Peringatan atau warning ini didasarkan pada temuan berbagai jenis mikroba yang berpotensi menyebabkan infeksi saluran pernapasan, diare, hingga masalah kulit. Area gagang pintu dan tiang penyangga di dalam bus menjadi sarang perkembangbiakan kuman karena kelembapan udara di dalam kabin bus yang terkadang tidak stabil serta tingginya frekuensi perpindahan bakteri dari satu orang ke orang lain. HAKLI menekankan bahwa bahaya bakteri ini tidak boleh dianggap remeh, terutama bagi warga dengan sistem imun rendah, anak-anak, dan lansia. Transportasi publik yang seharusnya menjadi solusi mobilitas bisa berubah menjadi media penyebaran penyakit jika standar kebersihan diri tidak dijalankan dengan ketat oleh setiap individu.
Untuk meminimalisir risiko kesehatan tersebut, para ahli memberikan beberapa panduan praktis agar masyarakat bisa tetap steril selama melakukan perjalanan. Langkah pertama yang sangat krusial adalah menghindari menyentuh wajah, hidung, atau mulut setelah memegang fasilitas umum sebelum mencuci tangan. Penggunaan cairan pembersih tangan (hand sanitizer) dengan kandungan alkohol minimal 60% sangat disarankan untuk dibawa di dalam tas komuter. Selain itu, jika memungkinkan, disarankan untuk menggunakan sarung tangan tipis atau menggunakan tisu sebagai pembatas saat harus berpegangan pada tiang atau gagang pintu bus. Tindakan preventif sederhana ini dapat menurunkan risiko kontaminasi silang secara signifikan di tengah kerumunan penumpang.
Selain tanggung jawab individu, HAKLI Jakarta juga mendesak pihak pengelola transportasi publik untuk meningkatkan frekuensi disinfeksi pada setiap armada bus. Proses sterilisasi harus dilakukan secara menyeluruh, terutama pada jam-jam sibuk setelah pergantian sif pengemudi. Edukasi melalui poster dan pengumuman suara di dalam bus mengenai pentingnya menjaga kebersihan tangan juga perlu terus digalakkan. Dengan adanya sinergi antara kebijakan pengelola dan kesadaran penumpang, risiko penyebaran kuman di ruang publik dapat ditekan. Kesadaran akan kesehatan lingkungan di transportasi massal merupakan bagian penting dari upaya membangun kota Jakarta yang lebih sehat dan tangguh terhadap ancaman penyakit menular.