Mengapa Pohon di Kota Penting untuk Kesehatan Paru-paru Anda?

Kualitas udara di kawasan metropolitan seperti Jakarta, Surabaya, atau Medan seringkali menjadi perhatian utama, terutama bagi penduduk yang rentan terhadap penyakit pernapasan. Salah satu solusi alami yang paling efektif namun sering terabaikan adalah kehadiran vegetasi, khususnya pohon di kota. Keberadaan pepohonan rindang di tengah hiruk pikuk bangunan beton bukan sekadar elemen estetika; ia adalah komponen vital dalam menjaga ekosistem perkotaan dan, yang paling penting, menjadi garda depan bagi kesehatan paru-paru setiap warga. Peningkatan polusi udara dari kendaraan bermotor dan aktivitas industri telah membuat paru-paru kita bekerja ekstra keras. Di sinilah peran krusial pohon masuk.

Fungsi utama pohon yang paling dikenal adalah proses fotosintesis, di mana mereka menyerap karbon dioksida ($CO_2$) dan melepaskan oksigen ($O_2$). Namun, peran mereka jauh melampaui pertukaran gas sederhana ini. Pohon bertindak sebagai filter udara alami raksasa. Daun dan kulit kayu mereka memiliki kemampuan untuk menjebak dan menyerap partikel polusi berbahaya, seperti materi partikulat halus ($PM_{2.5}$ dan $PM_{10}$), sulfur dioksida ($SO_2$), dan nitrogen dioksida ($NO_2$). Sebuah studi yang dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta (BLHD) pada tahun 2023 menunjukkan bahwa satu pohon dewasa jenis Trembesi (Samanea saman) mampu menyerap sekitar 28,5 kilogram $CO_2$ per tahun, secara signifikan membantu mengurangi beban polutan di udara.

Partikel-partikel mikroskopis ini adalah ancaman terbesar bagi kesehatan paru-paru karena mereka dapat menembus jauh ke dalam saluran pernapasan, menyebabkan asma, bronkitis, dan bahkan kanker. Dengan menahan polutan ini, pohon secara langsung menurunkan risiko penyakit tersebut. Selain itu, pohon juga melepaskan uap air melalui transpirasi, yang membantu mendinginkan suhu lingkungan—sebuah fenomena yang dikenal sebagai “efek pulau panas perkotaan.” Suhu yang lebih sejuk tidak hanya meningkatkan kenyamanan tetapi juga mengurangi pembentukan ozon di permukaan tanah (polutan sekunder) yang sangat iritatif bagi saluran pernapasan.

Pemerintah Kota Bandung, misalnya, telah meluncurkan program penghijauan intensif yang menargetkan penanaman 10.000 pohon baru di sepanjang jalan protokol pada kuartal ketiga tahun 2024. Program ini didasarkan pada data dari Dinas Kesehatan setempat yang mencatat peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang signifikan, mencapai puncaknya pada 120 kasus per hari pada bulan Agustus 2024. Upaya ini menunjukkan pengakuan bahwa investasi pada pohon di kota adalah investasi langsung pada infrastruktur kesehatan masyarakat.

Menjaga kelestarian lingkungan hijau di perkotaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga setiap warga. Melalui upaya kolektif, kita dapat memastikan bahwa udara yang kita hirup bersih, sehingga kesehatan paru-paru setiap individu, dari anak-anak hingga lansia, tetap terjaga. Oleh karena itu, mempertahankan dan menanam lebih banyak pohon bukanlah pilihan, melainkan sebuah kebutuhan mendesak untuk masa depan kota yang lebih sehat.