Kualitas udara di wilayah metropolitan Jakarta pada awal tahun 2026 ini kembali menjadi sorotan tajam seiring dengan meningkatnya konsentrasi polutan yang melampaui ambang batas aman. Sebagai respons cepat terhadap kondisi yang mengkhawatirkan ini, Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) wilayah Jakarta melakukan aksi nyata yang menyasar langsung ke pemukiman padat penduduk. Dalam program bertajuk “Jakarta Bernapas Sehat“, organisasi ini memutuskan untuk sebar filter udara gratis kepada warga yang tinggal di area dengan tingkat polusi tertinggi. Langkah ini diambil bukan hanya sebagai solusi jangka pendek, tetapi juga sebagai bagian dari edukasi masif mengenai pentingnya menjaga kualitas udara dalam ruangan (indoor air quality) demi kesehatan paru-paru jangka panjang.
Inisiatif untuk sebar filter udara gratis ini difokuskan pada keluarga yang memiliki anggota kelompok rentan, seperti balita, lansia, dan penderita asma. Filter udara yang dibagikan bukanlah perangkat elektronik mahal yang membutuhkan daya listrik besar, melainkan inovasi filter mekanik dan karbon aktif yang dapat dipasang secara mandiri pada ventilasi rumah atau kipas angin sederhana. Para pakar dari HAKLI menjelaskan bahwa polusi di Jakarta tidak hanya berasal dari asap kendaraan di jalan raya, tetapi juga partikel halus yang masuk ke dalam rumah dan mengendap di perabotan. Dengan adanya filter ini, partikel PM2.5 yang berbahaya dapat tersaring secara signifikan, sehingga risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dapat ditekan semaksimal mungkin.
Proses distribusi dalam aksi sebar filter udara gratis ini dilakukan secara terorganisir melalui kerja sama dengan kader kesehatan di tingkat kelurahan. Petugas tidak hanya memberikan alat, tetapi juga memberikan pelatihan singkat mengenai cara pemasangan dan waktu penggantian filter. Edukasi ini sangat penting agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima bantuan pasif, tetapi juga memahami teknis pemeliharaan perangkat kesehatan lingkungan secara mandiri. HAKLI menekankan bahwa filter udara adalah benteng terakhir di dalam rumah, sementara perjuangan utama tetaplah pada pengurangan emisi di sumbernya. Namun, di tengah situasi siaga polusi seperti sekarang, intervensi fisik pada bangunan tempat tinggal menjadi kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda lagi.