Standardisasi Kompetensi Tenaga Kesling: Mengapa Tanpa Ini, Peran HAKLI sebagai Mitra Pemerintah Hanya Sebatas Wacana?

Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) bercita-cita menjadi mitra strategis pemerintah dalam isu kesehatan dan Kesling. Namun, ambisi ini akan sulit dicapai tanpa adanya standardisasi kompetensi yang ketat bagi anggotanya. Tanpa tolok ukur yang jelas, kredibilitas HAKLI akan dipertanyakan.

Standardisasi kompetensi memastikan setiap tenaga Kesling, mulai dari sanitarian di Puskesmas hingga konsultan di industri, memiliki keahlian yang seragam. Keragaman mutu lulusan pendidikan dan praktik lapangan hanya akan menghasilkan pelayanan yang inkonsisten dan tidak terjamin kualitasnya di mata publik.

Tanpa standar kompetensi yang diakui secara nasional, sulit bagi pemerintah untuk mempercayakan program Kesling yang kompleks kepada HAKLI. Peran HAKLI akan tereduksi menjadi sebatas wadah profesi tanpa daya tawar profesional yang kuat. Kemitraan strategis hanya tinggal wacana.

Standardisasi memungkinkan HAKLI menerbitkan sertifikasi profesi yang memiliki nilai hukum dan pengakuan. Sertifikasi ini adalah bukti bahwa seorang ahli Kesling mampu menjalankan tugasnya sesuai pedoman. Ini menjamin akuntabilitas dan tanggung jawab profesi di lapangan.

Pemerintah membutuhkan data dan rekomendasi berbasis bukti dalam membuat kebijakan Kesling. Data ini harus berasal dari tenaga profesional yang kompeten. Jika kompetensi tidak standar, hasil pengawasan dan analisis risiko lingkungan yang disampaikan HAKLI berpotensi diragukan validitasnya.

Sertifikasi kompetensi juga melindungi masyarakat. Masyarakat berhak mendapatkan pelayanan Kesling yang berkualitas, seperti pengujian kualitas air atau pengendalian vektor penyakit. Standardisasi memastikan bahwa layanan ini diberikan oleh tenaga yang benar-benar ahli dan teruji.

Bagi tenaga Kesling sendiri, standardisasi adalah kunci untuk meningkatkan daya saing di pasar kerja. Kepemilikan sertifikat kompetensi yang terjamin mutunya akan memberikan nilai tambah yang signifikan, membuka peluang karir, serta menjamin kesejahteraan mereka.

HAKLI harus memimpin upaya sinkronisasi kurikulum pendidikan Kesling dengan kebutuhan praktik di lapangan. Standardisasi berfungsi sebagai jembatan antara teori di bangku kuliah dan tuntutan pekerjaan, menciptakan tenaga ahli yang siap pakai.

Singkatnya, standardisasi kompetensi adalah fondasi yang kokoh bagi HAKLI. Ini mengubah HAKLI dari sekadar organisasi menjadi mitra profesional pemerintah yang efektif dan terpercaya dalam mewujudkan lingkungan serta kesehatan Kesling yang berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia.